Pages

Tuesday, 25 October 2016

Pergulatan waktu

Bulan bergulir. Satu malam, ia berjalan. Dua malam, tiga malam, dan malam-malam lain telah ia lewati.
Sepintas adegan-adegan bergulir mengikuti jejak langkahnya. Momen dan waktu bergejolak. Fragmen-fragmen baru. Sepintas ia menoleh. Ia terbeliak. Masih? Tanyanya. Aku mengangguk. Pelan.
"Ah, kau lemah. Mana kata-katamu yang berani kemarin? Mana ikrar yang kau ucapkan? Masih pantaskah kau melihat bayangmu pada cermin? Kau injak dirimu sendiri!"
Terisak aku pada sang bulan. "Semua ini hanya menunggu waktu.". "Bohong! Ujar sang bulan,"Mau berapa lama lagi aku harus bergerak dan bertemu matahari? 730 kali sudah aku berputar. Sudahlah. Aku lelah! Apa lagi yang dia tunggu? Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang dia inginkan?kau bodoh!"
Aku menghela napas. "Sudahlah bulan, sekuat apapun aku mencoba, aku tak akan bisa mengubah pertemuanmu dengan sang matahari. Tunggulah. Berputarlah beberapa saat lagi. Ijinkan aku menunggu. Hujan akan beberapa kali turun dan langit akan kelabu, tapi bersabarlah. Suatu hari nanti, akan kubusungkan dadaku. kutolehkan kepalaku, dan aku akan berjalan. pergi. Mencari oase baru. Untuk kita berdua. Aku janji. '

Tuesday, 11 October 2016

Mesin waktu

Ini akan menjadi postingan pertamaku setelah sekian lama tidak bergulat dengan kata-kata. I hope it will be something bombastic, yet it turns out to be another silent scream from my heart. Sigh.. 

Sejenak benakku terlempar ke masa itu. Masa dimana aku masih mengungkapkan keluh lewat kata, dimana dunia cerita masih menjadi media untuk berbicara.
Jariku lalu menari, mengetikkan sebuah tautan yang kuhapal betul. 
Pelan-pelan aku membaca, tertawa, berpikir, dan menari dalam masa lalu. Well this will be a great way to kill my boredom! Pikirku pada awalnya..
Mataku memicing, menemukan suatu nama. Terbuai rasa penasaran, aku masuk dan mulai masuk dunia yang ada disana. Lagi, aku tenggelam dalam kisahnya. Dan aku.. menemukan sebuah penyelesaian yang telah lama menanti untuk ditemukan. Kata maaf itu terucap, dan damai menyusup di relung hati. Inilah akhirnya.. 

Pelan-pelan kututup semua, namun aku melihat suatu nama. Yang pernah menjadi pemeran utama. Yang pernah mengukirkan cinta. Yang lama tak pernah terlintas, namun selalu ada. Yang telah hilang. 
Apa kabarmu?
Aku bagaikan melintas pada mesin waktu. Yang membawamu kembali hadir. Yang memenuhi pikiranku dengan senyumanmu. Yang membuat aku berlutut dan berdoa, tidak mampukah kita bertemu sebentar saja?
Sahabat sekaligus orang yang pernah kucinta. Yang tak pernah hilang, namun belajar untuk kurelakan, untuk kulupakan. Namun hari ini. Hanya untuk hari ini saja. Berlarilah ke sisiku. Naikilah sang mesin wajtu.
Ayo kita berdansa di dalam mimpi..

1.47am
Aku, yang tengah merindukanmu.

Wednesday, 12 August 2015

Akhir dari perjalanan

Tanganku bergetar ketika mengetikkan judul dari blog ini. Akhir dari perjalanan.. 
Apakah memang begini keadaannya?
Mungkin iya dan mungkin tidak.
Ketika perasaan masih terkait, ketika kerelaan belum terucap, dan ketika cinta masih bicara, ini semua masih belum berakhir. Entahlah. 
beberapa waktu yang lalu, butiran keberanian terlepas dari bibirku.
Membentuk kata dan berkata dengan suara yang lirih,
"Jadi kita ini.. apa?"
Antara aku dan dia, kamu harus memilih diantaranya, karena kita tidak bisa berada di kubangan dusta ini lebih lama lagi. Aku menginginkan kepastian."
Kata-kata itupun terucap dari bibirnya. Aku tidak akan memilih kalian berdua..
Biarlah aku untuk menyelesaikan semua urusanku dengannya, untuk menyelesaikan apa yang ada diantara kami. Dan setelah itu mari kita lihat, apakah aku akan kembali, Tapi jangan menunggu aku..

Aku mengerti, sungguh, di dasar hatiku yang paling dalam menerima mengapa dia melontarkan kata-kata itu padaku. Tapi satu hal yang tidak bisa aku terima, mengapa dia tidak meinta aku menunggu?
Kalau dia memintaku menunggu, aku akan meunggu, berapa lamapun waktu yang ia butuhkan.
kata-kata kedua itu meluncur dari bibirnya,
Aku tidak yakin aku akan bisa membuatmu bahagia..

Jujur, aku tidak mengerti, Mengapa dia merasakan hal seperti itu?
Jadi apa artinya semua yang sudah kami bangun selama ini?
Entahlah. 
Namun sampai kini, kecuali ikatan status, nyaris tidak ada yang berubah diantara kami.
Dia mengatakan bahwa dia masih mencintaiku, namun untuk sebuah komitmen, dia tidak bisa memberikannya.

Apakah aku harus menyerah?
Namun ketika aku berada di titik itu, tubuhku bereaksi.
Aku menggengam erat dirinya.
Lagi.
Kutemui diriku mengatakan,
Jangan pergi, 
Kumohon jangan pergi.
Tetaplah berada disini..

Cinta?
Takut kehilangan?
Entahlah..
Aku tidak tahu kapan dia akan menyelesaikan masalahnya.
Aku tidak tahu apakah dia akan kembali padaku ketika saat itu tiba.
Aku tidak tahu akan dibawa kemana perasaan ini, 
Namun aku tahu,
Setidaknya,
Aku sudah mencapai akhir dari perjalananku.
Mungkin berhenti disini,
Mungkin akan berlanjut,
Namun apapun yang terjadi,
Semoga ini yang terbaik untuk semuanya.. 

Thursday, 21 May 2015

Dibalik bayang-bayang

Waktu terasa begitu cepat. Tick tock tick tock.
selintas terngiang bunyi jarum yang berdetak dan mulai mengejar sang waktu.
tanpa terasa semua ini akan berjalan menuju akhir.
Ya, aku mencintai kamu.
Perasaan yang tanpa terasa muncul dan bertunas. Walau tak diinginkan. walau menyebabkan banyak hal terguncang.
Perasaan yang muncul sedemikian rupa sehingga menggulingkan semua akal sehat dan alasan. Perasaan yang menghilangkan logika dan aturan yang ada.
namun dibalik semua keindahan in, terselip suara-suara perlahan yang terus terngiang.
"Sampai kapan?"
Berada di balik bayangan orang lain. Tersembunyi dibalik dusta. Berpelukan didalam ruangan yang terkunci. Sampai kapan?

dan semua ini akan berjalan menuju akhir. Dimana ada saatnya aku harus melepaskan semua ini. karena betapapun bahagianya, tidak, aku tidak bisa berada di bawah bayangan orang lain selamanya. 
Aku menginginkan rasa aman. rasa dimana aku tidak perlu takut sesuatu yang kuucapkan akan membuat dia berpaling. 
Aku menginginkan kepastian bahwa aku dipilih, aku dicintai. 
Aku tidak ingin merasa takut setiap kali melihat dia bermain dengan handphonenya, dan bertanya-tanya siapa yang sedang ia temui di seberang sana.
Aku ingin menjadi kekasih seutuhnya, bukan seseorang yang bersembunyi dibalik bayangan belaka.. 

Thursday, 19 March 2015

Tick Tock

Menghitung hari, yang semakin mendekat, yang membuat hatiku resah, dan tidak bisa aku ubah.
Ini sulit. Sungguh, ini tidak mudah.
Semua prasangka dan rasa curiga yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Rasa tidak percaya dan keraguan yang terus menggeliat di dada.
Perasaan-perasaan asing yang terus meresap.
Rasa tidak berdaya. Perasaan kalah.

Sungguh. Apa yang membuatku menyetujui hal ini pada saat pertama?
Apa yang membuat aku begitu buta?
Aku tau resikonya. Aku tau konsekuensinya.
Aku menjadi terbiasa, atau mencoba menutup mata, menelan semuanya dengan satu kata.
"Terima saja.."

Ya tuhan, berbagi sungguh tak mudah.
Menerima dengan lapang dada.
Menelan semuanya.
Mencoba bersyukur dengan apa yang aku terima, biarpun tak sama.
Berusaha sendirian. Sekuat tenaga.
Lalu kecewa karena dia tidak berbuat hal yang sama.
Mencoba untuk memalingkan mata, biarpun hatiku tetap merasa.
Kebingungan. 
Mana sebetulnya yang terutama?
Apakah yang kulakukan sia-sia?

Tick-tock, tick-tock.
Waktu terus berputar.
Apa yang akan kau lakukan, Tasya?


Saturday, 7 March 2015

Bitter truth

Detik bergulir, tanpa terasa 2 bulan telah berlalu semenjak aku mengisi blog ini. Masih berada di titik yang kurang lebih sama. beberapa perubahan disana-sini, tapi yah aku masih terus berkutat di lingkaran yang sama. 

Beberapa hari ini aku memikirkan beberapa hal. Semua ini bermula ketika teman-temanku dengan bercanda membicarakan aku dan dirinya, yang berkedok atas nama "sahabat" di mata yang lain. Salah seorang dari mereka berkata, "Tas, lo bakal jd spesialis perebut suami orang deh." dan lalu mengakhirinya dengan tawa yang membahana. Aku terbahak, tapi di sisi lain aku tertegun, sudah sebeginikah teman-temanku megecapku?
Disaat itu hatiku lalu terasa pilu.Apakah seperti itu orang-orang memandangku? Aku kesal, tapi aku tidak bisa marah karena di satu sisi, apa yang mereka katakan adalah kenyataan. Aku, adalah si perebut milik orang lain. 

Hal ini terus membuatku berpikir, dan mulai menganalisa beberapa hal. Aku, menjumpainya beberapa hari sekali. Apakah dia yang memintaku? Aku, membiarkan diriku terluka oleh kata-katanya. Apakah aku melawan? Aku, bersabar ketika dia membuatku cemburu, terus menerus mengatakan bahwa itu hal yang wajar, bahwa aku harus terbiasa dan merelakan, apakah itu hal yang benar?
Entahlah. 

Aku menginginkan momen-momen dimana seseorang menatapku dan mengatakan dia mencintaiku dan hanya aku.
Aku menginginkan saat-saat dimana seseeorang akan menaruh handphonenya dan memberikan perhatian penuh kepadaku.
Aku menginginkan waktu dimana seseorang merangkul bahuku, menggandeng tanganku tanpa takut akan pandangan orang-orang.
Aku menginginkan hari-hari dimana aku bisa menceritakan kekhawatiranku, hal-hal aneh yang kupikirkan tanpa adanya rasa takut orang itu akan merasa kesal dan pada akhirnya akan memilih orang lain.
Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa mengekspresikan rasa cintaku dengan bebas, tanpa merasa takut, tanpa harus dibatas oleh tembok dan kunci.
Aku ingin merasa dicintai seutuhnya, tanpa harus berbagi, tanpa harus menahan diri, tanpa harus merasa takut dihakimi. Cinta yang kepadanya aku merasa bebas dan lepas. 

Cinta yang hanya milikku...

Tuesday, 20 January 2015

Unbearable

Waktu terus bergulir, detik melangkah setapak demi setapak.
Tapi aku, masih disini. Di hubungan yang masi tanpa nama dan penuh dengan tanda tanya.
Tidak, aku tak akan pernah meminta,untuk meninggalkan gadisnya.
Tapi kenapa, semua terasa makin tak tertahankan?
Momen-momen sederhana, yang menusuk hati ketika diingat.
Serpihan-serpihan kecil, fragmen sederhana, yang perlahan membuat aku gila.
Apa yang kurang? Apa yang salah?
Atau mungkin aku memang hanya sekedar pilihan..