Bulan bergulir. Satu malam, ia berjalan. Dua malam, tiga malam, dan malam-malam lain telah ia lewati.
Sepintas adegan-adegan bergulir mengikuti jejak langkahnya. Momen dan waktu bergejolak. Fragmen-fragmen baru. Sepintas ia menoleh. Ia terbeliak. Masih? Tanyanya. Aku mengangguk. Pelan.
"Ah, kau lemah. Mana kata-katamu yang berani kemarin? Mana ikrar yang kau ucapkan? Masih pantaskah kau melihat bayangmu pada cermin? Kau injak dirimu sendiri!"
Terisak aku pada sang bulan. "Semua ini hanya menunggu waktu.". "Bohong! Ujar sang bulan,"Mau berapa lama lagi aku harus bergerak dan bertemu matahari? 730 kali sudah aku berputar. Sudahlah. Aku lelah! Apa lagi yang dia tunggu? Apa lagi yang kurang? Apa lagi yang dia inginkan?kau bodoh!"
Aku menghela napas. "Sudahlah bulan, sekuat apapun aku mencoba, aku tak akan bisa mengubah pertemuanmu dengan sang matahari. Tunggulah. Berputarlah beberapa saat lagi. Ijinkan aku menunggu. Hujan akan beberapa kali turun dan langit akan kelabu, tapi bersabarlah. Suatu hari nanti, akan kubusungkan dadaku. kutolehkan kepalaku, dan aku akan berjalan. pergi. Mencari oase baru. Untuk kita berdua. Aku janji. '
Tuesday, 25 October 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment