Pages

Saturday, 27 December 2014

Pain.

and i thought I've overcome the pain, it's still hurts to see..

Penerimaan. Suatu kata yang telah menjadi kunciku dalam beberapa minggu terakhir ini.
Terima kenyataannya, apapun yang kamu lakukan tidak akan mengubah apa-apa. Kukira segalanya akan mudah, aku telah terbiasa. perasaanku telah kebal dari rasa sakit.
tapi hari ini entah kenapa perih itu datang.
aku kira telah kuberikan semua yang aku bisa. Aku telah mencoba sekuatku. semampuku. tapi pada akhirnya dia tetap tidak bisa lepas dari hantu masa lalunya. tidak. pacarnya. Aku yang menjadi benalu dalam hubungan ini.
seorang teman yang baru kukenal mengatakan padaku. "kalau aku punya pacar dan ada seorang gadis yang dengan sukarela datang kepadaku, then i'll go for it. Cowo memang begitu. Mereka akan berpikir dengan otak, bukan dengan perasaan."
Aku terpekur. Apakah hal yang sama, pola yang sama telaah terjadi padaku?
Apa mungkin, semua yang kuberikan dan kulakukan dengan sukarela, atas nama kasih sayang dan perhatian mungkin hanya sebegitu maknanya?
Hanya sekedar. "Mumpung ada, gunakanlah." ?

Mungkin kukira aku telah berhasil mengatasi semuanya. Telah berhasil menghadapi kecemburuanku.
Tapi, perih itu ternyata masih ada. Rasa terpinggirkan itu nyata. Jadi kini, apa yang harus kulakukan?
Bagaimana, cara menghilangkan dan melepaskan semua ini?

Tuesday, 9 December 2014

Kata cinta

I love you.

Kata ini dulu sering kudengar. Tapi kutampik dengan mudahnya.
Kata ini dulu sering terucap. Tapi kutulikan telingaku hingga ia tak berbunyi.
Sungguh. Apa kudapatkan hukumanku sekarang?
Betapa hausnya aku mendengar sepatah kata itu.
Betapa kunantikan ia mengucapkannya.
Tapi bahkan setelah menit dan detik berlalu, hanya kudengar bisik keheningan.
Jutaan tanya berkecamuk. Kenapa?
Ia mengatakan ini dengan mudahnya kepada gadisnya. Setiap harinya. Nada itu bergema.
I love you.
Aku takut. Apa rasa itu tak lagi ada?
Atau memang masa depan untuk apapun hubungan ini bersifat fana?
Hanya kepada kata harapku bergantung. Hanya kepada kata landasan rasaku bermuara.
Ketika ia tak lagi bernada, kemana harus kugorehkan semua perasaan ini?
Jalinan tak bernama.

Tuesday, 2 December 2014

Sudut pandang yang berbeda


Belakangan ini moodku berada di titik pertemuannya. dimana dia bisa berlari kedua sisi. dan ini membuat temperamenku berubah dengan cepatnya.
Aku adalah orang yang pencemburu. 
Yah, fakta ini baru kutemukan baru-baru ini. ketika kusadari aku tak sanggup berbagi.
Kemanapun mataku memandang, ada gestur-gestur kecil, yang sungguh, membuat hatiku perih.
Aku selalu merasa, kenapa ini tidak adil?
Atau berkata kepada Tuhan, kenapa begini adanya?
Tanyaku tak putus. Keluhanku mengalir deras.
Tapi hari ini sebuah pemahaman baru menyentakku.
Mungkinkah. Aku harus belajar sesuatu dari sini?
Mungkinkah. Aku harus belajar mensyukuri apa yang kudapatkan sekarang?

Biarpun dengan caranya yang berbeda. Dengan kata-katanya yang kadang terdengar tajam. Biarpun dengan kata manis yang jarang terucapkan. Aku tau itu semua dia lakukan untuk kebaikanku.
Dia. selalu memperhatikanku dengan caranya. selalu punya cara unik yang membuatku tersenyum.
Jadi kenapa aku tidak menengadah dan bersyukur?
Memang keadaan ini tidaklah mudah. dan jalan yang akan kutuju bukan mulus tanpa hambatan.
Tapi hey, mungkin dengan itu aku akan mendapatkan pengertian baru tentang hidup.
Mungkin dengan belajar berbagi, aku akan mengerti arti kesabaran.
Mungkin dengan berbagi, aku dapat mengucap syukur tentang apa yang kupunya.
Aku tau, ini semua mungkin kebodohan dimata orang lain. Tapi, aku akan melakukan apa yang kuanggap benar. 
Konsekuensi ini semua, biarlah aku yang menanggungnya.
Momen ini mungkin tidak akan berlangsung lama, tapi sekarang, biarlah aku menikmati keabadian semu ini. Biarkanlah aku memandang hidup, dari sudut pandang yang berbeda. 

Monday, 1 December 2014

Titik nadir

Pernahkah kamu, berada di titik nadir?
sebuah titik dimana segalanya terasa sia-sia. dan hampa. dan kamu merasa bahwa keberadaanmu merupakan sebuah hal yang tidak berharga?
aku berada di titik itu sekarang.
tidak diinginkan. dapat dengan mudahnya digantikan. hama.
Aku memiliki kepercayaan diri yang rendah sejak dulu.
betapa tidak?
aku selalu menjadi pilihan kedua. aku merasa tidak cantik. aku merasa tidak berharga.
keberadaanku dapat mudah ditinggalkan. dan aku selalu dijadikan pilihan.
aku diambil hanya karena mereka membutuhkan sesuatu dariku. fisik. raga.
namun ketika aku mengelupas sisi diriku. mereka mundur.
mereka merasa kurang. mereka memilih yang lain. aku digantikan.
aku lelah. aku takut mempercayai orang lain.
aku takut bertanya. mana hal yang benar. mana hal yang dusta?
aku takut dikecewakan. mencoba sekuat tenaga. dan akhirnya sia-sia.
berjuang. berjuang. berjuang.
hingga kutemukan kekalahan pada akhirnya.

Aku berteriak cinta. pada kegelapan. dan kudengar suaraku yang bergema di keheningan.