Pages

Tuesday, 20 January 2015

Unbearable

Waktu terus bergulir, detik melangkah setapak demi setapak.
Tapi aku, masih disini. Di hubungan yang masi tanpa nama dan penuh dengan tanda tanya.
Tidak, aku tak akan pernah meminta,untuk meninggalkan gadisnya.
Tapi kenapa, semua terasa makin tak tertahankan?
Momen-momen sederhana, yang menusuk hati ketika diingat.
Serpihan-serpihan kecil, fragmen sederhana, yang perlahan membuat aku gila.
Apa yang kurang? Apa yang salah?
Atau mungkin aku memang hanya sekedar pilihan..

Sunday, 11 January 2015

Tatapan mata

Hal yang selalu kuperhatikan ketika bwrhadapan dengan orang adalah tatapan matanya.
Dengan tatapan mata, kau dapat meneropong isi hati mereka.
Namun, ketika aku berbuat kesalahan, aku takut melihat mata orang-orang.
Aku merasa dihakimi. Aku merasa direndahkan.

Berhubungan dengan dia, aku takut melihat tatapan mata orang lain.
Apa yang akan kutemukan disana?
Apakah pandangan menghakimi?
Apakah pandangan aneh?
Apakah pandangan jijik? Apa mereka menganggapku pelacur?
Seorang gadis yang mendatangi lelaki yang sudah memiliki pacar.
How does it sound?

Sungguh aku merasa hina. Aku takut ditelanjangi oleh tatapan-tatapan itu.
Tuhan, aku tidak tau. Sampai titik mana aku harus bertahan?
Sampai sehancur apa aku baru aku merasa puas?

Sadness

Apa itu definisi kesedihan?

Definisi ini mungkin berbeda pada setiap orang, dan hal yang memicunya pun beragam.
Bagiku, definisi kesedihan adalah menangis dalam diam di pelukannya.
Saat dimana seharusnya aku merasa tenang. Tentram. Damai.
Aku selalu ingin dia tau ketika aku menangis. Aku ingin dia tau ketika aku kecewa.
Tapi kali ini? Air mataku kuteteskan dalam sunyi.

Aku bertanya-tanya. Bagaimana kalau semua ini tidak ada?
Sigh.
You reap what you sow. Aku telah membuat keputusanku dan aku tau aku harus menanggung konsekuensinya. Seberat apapun itu. Tapi hari ini, terasa berkali lipat lebih berat dari biasanya.
Ini hari pertama semenjak aku tinggal jauh darinya dan aku bertekat untuk datang menemuinya.
Tapi disana, lagi lagi, ia sibuk dengan chat gadisnya, dan he barely pay attention to me.
Belum lagi, melihat apa yang lama tidak kulihat. Berhadapan dengan fakta menyakitkan yang lama tidak kujumpai, sungguh menyakiti hatiku lebih dari yang kukira.

Salah satu ketakutan terbesarku dalam berhubungan adalah ketika aku dianggap sebagai objek. Sebagai alat pemuas belaka. Dan sungguh, sekarang ini aku merasa seperti itu lagi.

Apa aku cuma sekedar objek pelampiasan belaka ketika gadisnya tidak ada disini?
Apa aku hanya selingan bodoh yang rela untuk mengorbankan dirinya?
Apa aku hanya sebuah cadangan belaka dalam hubungan mereka?
Sungguh, pemikiran ini menghancurkanku.
Aku mendengar cinta tapi aku tidak bisa merasakannya.
Haruskah aku bertahan?