Pages

Monday, 24 November 2014

Mimpi buruk

Grasp.
Napasku sesak. Jantungku bergerak cepat. Aku terbangun.
Mimpi buruk lagi. Sejenak kulihat jam di layar handphoneku. 2.30 pagi.
Sigh..
kutarik kembali selimutku dan perlahan kupejamkan mata, mencoba kembali berdansa dengan keheningan.

Akhir-akhir ini aku sering bermimpi. Setelah sekian lama bunga tidur tidak menyambangiku. Bukan mimpi yang buruk memang, akan tetapi kerap kali membuatku resah dan tidak tenang.
Yah.. aku bermimpi tentang dia. Tentang pacarnya. Tentang bagaimana mereka semua tau. Tentang pandangan yang mereka perlihatkan kepadaku. Tentang pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Tentang luka yang aku guratkan. Tentang jalinan yang kurusak. Tentang apa yang aku lakukan. Tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan semua ini.

See? Tuhan memang penulis yang paling baik. Dia bisa membuat alur cerita di buku kehidupannya berputar dengan jalinan paling kusut yang dapat kau lihat.
berada di posisi ini? Mungkin dulu aku akan mengutuk diriku sendiri.

Sepanjang aku berpacaran, aku sangat membenci kata itu. Perselingkuhan.
Bagaimana kau bisa mencintai dua orang dalam waktu bersamaan?
Bagaimana kau bisa merusak jalinan yang telah ada, dua orang yang bahagia?
Aku tidak akan mengambil apa yang bukan milikku.
Itu ikrar yang penah aku ucapkan dahulu.
Funny how things turned out now.

Dulu, seseorang pernah mengambil seseorang yang kucinta.
Sakit. Putus asa. Kecewa.
Rasa-rasa itu berkecamuk dalam diriku.
Dan disaat yang sama aku juga melihat ibuku hancur karena perselingkuhan.
Ironisnya?
Akulah orang pertama yang menemukan semua itu.
Menjadi saksi bisu di pusaran badai yang meluluh-lantakkan keluargaku.
Melihat bagaimana rasanya apa yang dulu pernah bernama bahagia berubah dalam sekejap mata.
Melihat bagaimana ayahku bersimpuh memohon maaf di depanku.
Melihat bagaimana waktu yang telah berlalu tidak pernah menghapus luka yang telah tergores.
Ibuku dulu pernah berkata. Kamu tidak akan pernah paham bagaimana rasanya semua ini.
Aku ingin tertawa. Aku paham, ibu. Aku berada di posisimu saat ini!
Tapi mulutku terkunci. Dan aku hanya bisa membisu.

Kembali aku menghela napas.
Dengan semua pemahaman itu. Dengan semua luka yang ada. Bagaimana aku dapat melakukan hal yang sama?
Apakah batas antara baik dan buruk telah dikaburkan oleh waktu?
Apakah sebuah rasa bernama cinta mampu membuat aku menutup mata?
Entahlah. Bagiku semua ini masih bayang-bayang semu.
Apakah dia benar-benar mencintaiku?
Bahkan untuk menjawab inipun aku tak tahu.
Satu hal yang mungkin pasti.
Sampai semua tanda tanya ini terjawab,
mimpi buruk ini akan selalu mengejarku.

Sunday, 9 November 2014

Lelah

Tuhan, aku lelah.
ketika seluruh fakta yang kuketahui berputar dan berjungkir balik, sehingga aku tidak tahu, mana yang harus kupercaya.

Tuhan, aku lelah
Ketika benakku menari dan menduga-duga,
dan tidak kutemui
rasa tenang di ujung hati

Tuhan, aku lelah
ketika rasa ini perlahan berubah,
ketika sayang itu menyapa
tapi tumbuh di lahan yang salah

Tuhan, aku lelah
Ketika ia berdusta,
atau hanya berkata-kata
Ketika aku percaya
tapi rasa kecewa yang kujumpa

Sungguh,
rasa bahagia yang kuimpikan itu sederhana.
Tanpa banyak prasangka
tanpa menyakiti hati yang lainnya

Aku bertanya,
Bagaimana jika sore itu tidak pernah ada?
apakah semua akan tetap sama?
ataukah semua ini.. cuma bayang semu belaka?

Thursday, 6 November 2014

Kebimbangan

Dia seolah senyawa molekul yang terus berubah-ubah.
kadang dia dingin, kadang kehangatannya meluluhkan hati.
Aku bimbang. apakah aku harus maju? ataukah kutahan ini semua sampai aku mendapat.. entahlah, kepastian?
dan lagi waktu terus berdetak, menit terus terbuang. Situasi yang tak lagi sama.
Apakah semua ini cuma fatamorgana sesaat yang mungkin akan hilang?
keberadaannya dulu bagaikan matahari, yang memancarkan cinta, menerangi setiap sudut hati yang gelap. Tapi kini ketika tanganku merentang, dia terdiam dan balas menatapku dengan tatapan asing. aku bergeming. apa artinya ini?
dan kutahan hatiku untuk berdetak, dan aku menunggu.
Apakah semua ini, cuma permainan sesaat? Aku mulai takut.
Kenapa dia menghilang, ketika aku mulai mendekat? Kenapa dia, menjadi seorang yang asing?
batinku berbisik. Mungkin,dia belum terbiasa. Aku mengerti. Tapi sampai kapan?
Dan aku kembali meragu.

Wednesday, 5 November 2014

Akal dan Hati.

Aku lelah. Berat langkahku berjalan. sulit kakiku menapak.
Aku ingin lari, tapi sulit. hatiku terpaku. Tak ingin kakiku melangkah pergi dari sini. Dari semua kehangatan ini.

Hatiku berkata. Ayo, bertahan! hanya sedikit lagi, tinggal beberapa langkah lagi.
Tapi akalku berteriak. Jangan kau jadi orang bodoh! Dirimu hanya sebuah tempat persinggahan belaka. Raganya mungkin ada, tapi hatinya berlabuh di tempat lain.
Kau mungkin adalah tempat baru yang terlihat menarik untuk dikuasai, tapi pada akhirnya dia akan selalu kembali pulang ke surga kecilnya.

Tidak! Hatiku berteriak. Dia mencintaiku! kalau tidak, buat apa dia selama ini ada? 
Akalku mendesah. Kau harus belajar membedakan cinta dan kesetiaan. Dirimu mungkin memiliki hatinya. menarik raganya. tapi jauh didalam sana, kau tau dia tidak akan menghianati cinta sejatinya. Orang yang sudah bersama dia selama beberapa masa. Kau tau. Kau selalu tahu. 

Tapi akal, kau tahu kan? Aku membutuhkannya. Jika ia meninggalkanku, aku mungkin akan hancur.
Air mataku menetes perlahan. Membentuk sungai kecil di pelupuk mataku. Aku mencintainya, akal. Apa rasa ini suatu kesalahan?

Tidak ada yang salah dengan cinta, Hati. Tidak ada. 
Tapi mungkin kau harus belajar untuk melepaskan dan menerima. Legowo.
Merpati selalu kembali pulang, sejauh apapun dia terbang, dia selalu ingat jalan kembali.
Sekeras apapun kau berusaha, tidak ada gunanya. Buat apa kau menahan sesuatu yang akan beranjak pergi?
Fisiknya ada, tapi tidak dengan hatinya.

Aku terdiam. Kembali bertengkar dengan pikiranku.

Aku selalu tahu.

Merpati akan selalu kembali pulang.