Pages

Thursday, 19 March 2015

Tick Tock

Menghitung hari, yang semakin mendekat, yang membuat hatiku resah, dan tidak bisa aku ubah.
Ini sulit. Sungguh, ini tidak mudah.
Semua prasangka dan rasa curiga yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Rasa tidak percaya dan keraguan yang terus menggeliat di dada.
Perasaan-perasaan asing yang terus meresap.
Rasa tidak berdaya. Perasaan kalah.

Sungguh. Apa yang membuatku menyetujui hal ini pada saat pertama?
Apa yang membuat aku begitu buta?
Aku tau resikonya. Aku tau konsekuensinya.
Aku menjadi terbiasa, atau mencoba menutup mata, menelan semuanya dengan satu kata.
"Terima saja.."

Ya tuhan, berbagi sungguh tak mudah.
Menerima dengan lapang dada.
Menelan semuanya.
Mencoba bersyukur dengan apa yang aku terima, biarpun tak sama.
Berusaha sendirian. Sekuat tenaga.
Lalu kecewa karena dia tidak berbuat hal yang sama.
Mencoba untuk memalingkan mata, biarpun hatiku tetap merasa.
Kebingungan. 
Mana sebetulnya yang terutama?
Apakah yang kulakukan sia-sia?

Tick-tock, tick-tock.
Waktu terus berputar.
Apa yang akan kau lakukan, Tasya?


Saturday, 7 March 2015

Bitter truth

Detik bergulir, tanpa terasa 2 bulan telah berlalu semenjak aku mengisi blog ini. Masih berada di titik yang kurang lebih sama. beberapa perubahan disana-sini, tapi yah aku masih terus berkutat di lingkaran yang sama. 

Beberapa hari ini aku memikirkan beberapa hal. Semua ini bermula ketika teman-temanku dengan bercanda membicarakan aku dan dirinya, yang berkedok atas nama "sahabat" di mata yang lain. Salah seorang dari mereka berkata, "Tas, lo bakal jd spesialis perebut suami orang deh." dan lalu mengakhirinya dengan tawa yang membahana. Aku terbahak, tapi di sisi lain aku tertegun, sudah sebeginikah teman-temanku megecapku?
Disaat itu hatiku lalu terasa pilu.Apakah seperti itu orang-orang memandangku? Aku kesal, tapi aku tidak bisa marah karena di satu sisi, apa yang mereka katakan adalah kenyataan. Aku, adalah si perebut milik orang lain. 

Hal ini terus membuatku berpikir, dan mulai menganalisa beberapa hal. Aku, menjumpainya beberapa hari sekali. Apakah dia yang memintaku? Aku, membiarkan diriku terluka oleh kata-katanya. Apakah aku melawan? Aku, bersabar ketika dia membuatku cemburu, terus menerus mengatakan bahwa itu hal yang wajar, bahwa aku harus terbiasa dan merelakan, apakah itu hal yang benar?
Entahlah. 

Aku menginginkan momen-momen dimana seseorang menatapku dan mengatakan dia mencintaiku dan hanya aku.
Aku menginginkan saat-saat dimana seseeorang akan menaruh handphonenya dan memberikan perhatian penuh kepadaku.
Aku menginginkan waktu dimana seseorang merangkul bahuku, menggandeng tanganku tanpa takut akan pandangan orang-orang.
Aku menginginkan hari-hari dimana aku bisa menceritakan kekhawatiranku, hal-hal aneh yang kupikirkan tanpa adanya rasa takut orang itu akan merasa kesal dan pada akhirnya akan memilih orang lain.
Aku merindukan saat-saat dimana aku bisa mengekspresikan rasa cintaku dengan bebas, tanpa merasa takut, tanpa harus dibatas oleh tembok dan kunci.
Aku ingin merasa dicintai seutuhnya, tanpa harus berbagi, tanpa harus menahan diri, tanpa harus merasa takut dihakimi. Cinta yang kepadanya aku merasa bebas dan lepas. 

Cinta yang hanya milikku...