Grasp.
Napasku sesak. Jantungku bergerak cepat. Aku terbangun.
Mimpi buruk lagi. Sejenak kulihat jam di layar handphoneku. 2.30 pagi.
Sigh..
kutarik kembali selimutku dan perlahan kupejamkan mata, mencoba kembali berdansa dengan keheningan.
Akhir-akhir ini aku sering bermimpi. Setelah sekian lama bunga tidur tidak menyambangiku. Bukan mimpi yang buruk memang, akan tetapi kerap kali membuatku resah dan tidak tenang.
Yah.. aku bermimpi tentang dia. Tentang pacarnya. Tentang bagaimana mereka semua tau. Tentang pandangan yang mereka perlihatkan kepadaku. Tentang pertanyaan-pertanyaan tak terjawab. Tentang luka yang aku guratkan. Tentang jalinan yang kurusak. Tentang apa yang aku lakukan. Tentang segala kemungkinan yang dapat terjadi dengan semua ini.
See? Tuhan memang penulis yang paling baik. Dia bisa membuat alur cerita di buku kehidupannya berputar dengan jalinan paling kusut yang dapat kau lihat.
berada di posisi ini? Mungkin dulu aku akan mengutuk diriku sendiri.
Sepanjang aku berpacaran, aku sangat membenci kata itu. Perselingkuhan.
Bagaimana kau bisa mencintai dua orang dalam waktu bersamaan?
Bagaimana kau bisa merusak jalinan yang telah ada, dua orang yang bahagia?
Aku tidak akan mengambil apa yang bukan milikku.
Itu ikrar yang penah aku ucapkan dahulu.
Funny how things turned out now.
Dulu, seseorang pernah mengambil seseorang yang kucinta.
Sakit. Putus asa. Kecewa.
Rasa-rasa itu berkecamuk dalam diriku.
Dan disaat yang sama aku juga melihat ibuku hancur karena perselingkuhan.
Ironisnya?
Akulah orang pertama yang menemukan semua itu.
Menjadi saksi bisu di pusaran badai yang meluluh-lantakkan keluargaku.
Melihat bagaimana rasanya apa yang dulu pernah bernama bahagia berubah dalam sekejap mata.
Melihat bagaimana ayahku bersimpuh memohon maaf di depanku.
Melihat bagaimana waktu yang telah berlalu tidak pernah menghapus luka yang telah tergores.
Ibuku dulu pernah berkata. Kamu tidak akan pernah paham bagaimana rasanya semua ini.
Aku ingin tertawa. Aku paham, ibu. Aku berada di posisimu saat ini!
Tapi mulutku terkunci. Dan aku hanya bisa membisu.
Kembali aku menghela napas.
Dengan semua pemahaman itu. Dengan semua luka yang ada. Bagaimana aku dapat melakukan hal yang sama?
Apakah batas antara baik dan buruk telah dikaburkan oleh waktu?
Apakah sebuah rasa bernama cinta mampu membuat aku menutup mata?
Entahlah. Bagiku semua ini masih bayang-bayang semu.
Apakah dia benar-benar mencintaiku?
Bahkan untuk menjawab inipun aku tak tahu.
Satu hal yang mungkin pasti.
Sampai semua tanda tanya ini terjawab,
mimpi buruk ini akan selalu mengejarku.
Monday, 24 November 2014
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
1 comments:
So saddd!!!
hiks T___T
Post a Comment